Investor Relations

Diskusi Bulanan ISSP “Membangun Bisnis di Pelosok Timur”

27 Feb 2020

 

ISSP (Internasional Society of Sustainability Professionals) Indonesia menyelenggarakan kegiatan diskusi bulanan dengan tema “Membangun Bisnis di Pelosok Timur” pada Jumat, 14 Februari 2020 di Bueno Nasio, Sunken Plaza Menara BTPN.

Dihadiri oleh 46 praktisi keberlanjutan dari beragam perusahaan dan organisasi seperti PT Freeport Indonesia, PT Bumi Resources, KADIN, Indonesia Global Compact Network, Indonesia Mengajar, Majalahcsr.id dan Universitas Binus, studi kasus dari diskusi ini membahas tentang sagu Papua – sebagai kekayaan alam dan bahan pangan alternatif yang terlupakan – dan tantangan yang dihadapi unit usaha ANJ, PT ANJ Agri Papua (ANJAP), dalam membangun bisnis sagu dari hutan sagu alami di Sorong Selatan, provinsi Papua Barat.

Dimoderatori oleh Maria Dian Nurani, Sekretaris Jenderal ISSP, diskusi menghadirkan Group Head Corporate Communications ANJ Nunik Maharani dan Ahmad Arif, wartawan Kompas dan penulis Buku Sagu Papua untuk Dunia terbitan Kepustakaan Populer Gramedia dan ANJ.

Ahmad Arif mengawali pembicaraan dalam diskusi ini dengan paparan tentang kebijakan pangan nasional yang hingga kini masih identik dengan beras sementara sumber pangan lainnya diabaikan. Arif menjelaskan Papua memiliki cadangan sagu alam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Sagu juga dikonsumsi di berbagai tempat lain di Indonesia termasuk Jawa. Penyebaran tanaman sagu tidak hanya tumbuh di Papua dan Maluku, tetapi juga menyebar dari timur di Pasifik Selatan ke barat hingga India.

Menurutnya, kerentanan pangan di Indonesia karena kurangnya pengetahuan dibandingkan kurangnya pangan. Sagu sebagai salah satu sumber pangan endemik dan berlimpah di alam harusnya bisa membantu menjawab kebutuhan pangan masa depan, khususnya di Papua bahkan di seluruh Indonesia.

Pada 2015, Indonesia telah menjadi pengimpor gandum terbesar di dunia dan terus meningkat. Kedatangan pangan dari luar yang tidak bisa diproduksi sendiri menjadi pemicu krisis pangan. Salah satunya kasus gizi buruk di Asmat pada 2018. Padahal, Asmat merupakan salah satu daerah paling kaya sagu.

Selanjutnya, Arif menjelaskan tentang arti penting sagu, peluang dan tantangan peran swasta dalam memanfaatkan kekayaan sagu bagi masyarakat dalam mengembangkan industri sagu.

Indonesia memiliki hutan sagu terbesar di dunia namun belum ada contoh sukses skala industri pada sektor bisnis ini.  Nunik membahas kiat serta tantangan yang telah dilalui ANJ sebagai pionir industri sagu modern di Papua. 

Nunik menjelaskan masih banyak orang Indonesia yang belum tahu atau bahkan memiliki pemahaman yang salah tentang sagu. “Sagu adalah kekayaan Indonesia.  Sagu bukan hanya miliki Indonesia Timur dan tidak hanya untuk dibuat papeda. Sebagai komoditas, sagu adalah potensi yang sayangnya masih belum mendapat perhatian dari Pemerintah.  Sebagai bahan pangan, sagu masih harus terus dieksplorasi untuk dapat diolah menjadi berbagai variasi makanan.  Tentu ini membutuhkan kreativitas, tidak hanya dalam membuat makanan, namun juga mengemas produk,.” ujarnya.

Terbagi dalam dua kelompok diskusi yang terfokus pada pangan dan bisnis, para peserta membahas dengan antusias peluang dan tantangan sagu sebagai produk komersial dan pengembangan bahan pangan kekayaan Indonesia agar dapat diterima masyarakat luas. Di akhir diskusi, masing-masing kelompok yang diwakili satu orang kemudian mempresentasikan hasil diskusi mereka.

Sambil menyantap makanan berbahan dasar sagu di Bueno Nasio, peserta juga membahas pengembangan sagu harus lebih dikembangkan dari segi jenis makanan dan bentuknya.

Promosi atau pemasaran sagu perlu melibatkan influencer, ketersediaan toko khusus sagu dan pemahaman publik perlu terus ditingkatkan melalui kampanye tentang berbagai keunggulan sagu yang lebih sehat dari karbohidrat lainnya. Selain itu, produk akhir dari sagu harus di produksi secara massal.

Para praktisi keberlanjutan ini juga menyarankan untuk melibatkan dunia pendidikan sebagai wadah edukasi tentang fungsi dan sejarah serta potensi pengembangan sagu. Peluangnya banyak sekali untuk lebih maksimal mempromosikan sagu sebagai produk unggulan indonesia.

Kesimpulan dalam diskusi tersebut, sagu sangat baik untuk kesehatan karena bebas gluten namun pemanfaatan sagu belum banyak atau belum dikelola dengan baik. Informasi tentang kandungan gizinya harus disebarluaskan.

Kampanye tidak bisa terlalu mengharapkan pemerintah. Kampanye tentang sagu masih kurang digerakkan karena litbang keragaman produk pangan yang berbasis sagu belum dikembangkan dengan baik.

Acara diskusi diakhiri dengan pemberian buku kepada 10 pendaftar pertama serta foto bersama.

 

Other Articles

ANJ Gelar Pencegahan COVID-19 di Unit Usaha Papua Barat
31 Mar 2020

Sorong – PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) menggelar sosialisasi penanganan dan pencegahan penyebaran COVID-19 di kantor perwakilan di kota Sorong dan dua unit usaha perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Sorong Selatan.

ANJ Obtained Certificate of Recognition for Sustainability Performance
27 Feb 2020

PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) last week obtained the Certificate of Recognition for its sustainable performance from Global Initiatives, whose partners include the Indonesian Business Council on Sustainable Development (IBCSD), PwC Indonesia and the Indonesian Chamber of Commerce.

Nature Conservation Agency & PT KAL Return Bornean Gibbon Back to Wild
28 Jan 2020

PT Kayung Agro Lestari (KAL), a subsidiary of PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) operating in West Kalimantan province, collaborated with the Nature Conservation Agency (BKSDA) in Ketapang regency in returning a Bornean agile gibbon (Hylobates Alibarbis) to a conservation area managed by the company.