speaker

Keberlanjutan

Bekerja di Papua: Impian yang Jadi Nyata

28 Nov 2016

 

Lahir dan besar di Jakarta, sejak SMP Naurah Zainar Aufaira membayangkan bekerja membantu orang tak mampu, di pedalaman, yang mencapainya harus dengan perahu melewati sungai yang rimbun. Ia memutuskan masuk Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dan lulus pada 1998.

Setelah sumpah dokter, Naurah menjadi pegawai tidak tetap di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, selama empat tahun. Setelah itu, selama 13 tahun kemudian, ia menjadi dokter di Rumah Sakit Islam Jakarta hingga mengambil spesialis kedokteran okupasi. 

Impian masa kecilnya terwujud ketika bergabung dengan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) pada Mei 2016. Naurah menjadi dokter perusahaan dan ditempatkan di klinik PT Putera Manunggal Perkasa di Desa Sumano: enam jam perjalanan laut dilanjutkan empat jam perjalanan darat dari Sorong, Papua Barat. 

Naurah harus meninggalkan suami dan lima anak yang masih bersekolah di Jakarta. Sebagai dokter, Naurah menjadi penanggung jawab klinik untuk melayani karyawan, keluarganya, dan masyarakat umum di empat desa.

Dibantu satu bidan dan seorang perawat, setiap hari ia menangani 30-100 pasien, hingga klinik harus buka sampai jam 9 malam. Umumnya mereka sakit karena lingkungan kotor dan perilaku hidup tak bersih, semacam diare, sakit kulit, atau luka tersabet parang. Biaya pengobatan gratis. “Kalau ada masyarakat yang tak bisa datang ke klinik, saya mendatangi ke rumah mereka,” kata Naurah.

Naurah nyaman bekerja di klinik. “Terutama karena ini impian saya mengabdi kepada masyarakat tak mampu di pedalaman Papua,” katanya.
 

 

Artikel Lainnya

Mengabdi di Pedalaman
28 Nov 2016

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti ayahnya yang menjadi dokter di sebuah perusahaan perkebunan, Erwan Taufik menapaki jejak yang sama ketika lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara pada 2006. Ia melamar ke sebuah perusahaan di Pangkalan Kerinci, Riau.