speaker

Keberlanjutan

Mengabdi di Pedalaman

28 Nov 2016

 

  

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Seperti ayahnya yang menjadi dokter di sebuah perusahaan perkebunan, Erwan Taufik menapaki jejak yang sama ketika lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara pada 2006. Ia melamar ke sebuah perusahaan di Pangkalan Kerinci, Riau.

Tujuh tahun di sana, pada Juni 2013 Erwan bergabung dengan PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais (ANJA Siais) di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, 14 jam dengan bus dari Medan. Waktu itu klinik belum permanen, masih berupa kontainer. Erwan mengurus pendirian klinik sejak pengurusan izin hingga persiapan bangunan fisiknya.

Setiap hari Erwan menangani 20-40 pasien karyawan perusahaan, keluarganya, hingga masyarakat di tiga desa di sekitar Padang Sidempuan. Meski ditanggung perusahaan, ANJA Siais memasukkan beberapa masyarakat menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) agar mendapat asuransi kesehatan dari pemerintah.

Sebelum ada dokter, masyarakat di wilayah perkebunan ANJA Siais tak familiar dengan dokter. Jika sakit mereka hanya berobat ke bidan desa. Banyak kejadian lucu di awal-awal Erwan praktek di sana. “Ada pasien datang ke klinik lalu lari karena takut disuntik,” katanya. “Padahal kan belum tentu disuntik karena diperiksa saja belum.”

Dalam praktek sehari-hari, Erwan dibantu dua perawat dan dua bidan. Jika ada masyarakat yang memintanya datang karena tak kuat ke klinik, Erwan naik ambulans menemui mereka. Biaya pengobatan gratis. ANJA Siais mendatangkan alat-alat medis dan obat-obatan dari Medan tiga bulan sekali.

Sebulan sekali pula Erwan pulang ke Medan, menemui istri dan dua anaknya yang masih balita. “Kadang-kadang saya ajak mereka ke kebun jika libur,” katanya.

 

 

Artikel Lainnya

Bekerja di Papua: Impian yang Jadi Nyata
28 Nov 2016

Lahir dan besar di Jakarta, sejak SMP Naurah Zainar Aufaira membayangkan bekerja membantu orang tak mampu, di pedalaman, yang mencapainya harus dengan perahu melewati sungai yang rimbun.