speaker

Bisnis Inti

Kelapa Sawit

Bisnis kami terdiri dari penanaman dan pemanenan terpadu tandan buah segar dari perkebunan kelapa sawit kami, mengolahnya menjadi minyak sawit mentah, inti sawit, dan minyak inti sawit, serta menjual minyak yang dihasilkannya. ANJ memiliki enam perkebunan kelapa sawit yang telah berproduksi:

  • Perkebunan Sumatera Utara I

Perkebunan kelapa sawit seluas 9.935 hektare di Binanga, Sumatera Utara, dioperasikan oleh anak perusahaan kami, PT Austindo Nusantara Jaya Agri (ANJA).

  • Perkebunan Sumatera Utara II

Perkebunan kelapa sawit seluas 9.412 hektare di Padang Sidempuan, Sumatera Utara, dioperasikan oleh anak perusahaan kami, PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais (ANJAS).

  • Perkebunan Pulau Belitung

Perkebunan kelapa sawit seluas 17.360 hektare di Pulau Belitung di Bangka Belitung, dioperasikan oleh anak perusahaan kami, PT Sahabat Mewah dan Makmur (SMM).

  • Perkebunan Kalimantan Barat

Perkebunan kelapa sawit seluas 13.879 hektare di Ketapang, Kalimantan Barat, dioperasikan oleh anak perusahaan kami, PT Kayung Agro Lestari (KAL).

  • Perkebunan Papua Barat

Perkebunan kelapa sawit seluas 54.704 hektare di Sorong Selatan dan Maybrat, Papua Barat, dioperasikan oleh anak perusahaan kami, PT Permata Putera Mandiri (PPM) dan PT Putera Manunggal Perkasa (PMP).

Semua ini adalah perkebunan yang telah menghasilkan buah kelapa sawit yang dilengkapi dengan pabrik kelapa sawit.

Kami juga telah memulai penanaman cadangan lahan yang kami miliki di Sumatera Selatan dan Papua Barat sebagai berikut:

  • Cadangan Lahan Sumatera Selatan

Cadangan lahan ini mencakup lahan seluas 12.800 hektare di Empat Lawang, Sumatera Selatan dan dioperasikan oleh anak perusahaan kami, PT Galempa Sejahtera Bersama (GSB). Kami memulai penanaman di cadangan lahan ini pada tahun 2013.

  • Cadangan Lahan Papua Barat

Cadangan lahan ini mencakup lahan seluas 36.506 hektare di Maybrat, Papua Barat, yang dioperasikan oleh ANJ. Penanaman untuk cadangan lahan ANJ telah ditangguhkan sejak 2018 karena menunggu persetujuan Prosedur Penanaman Baru dari RSPO.

ANJ telah menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) internasional sejak Mei 2007. Perkebunan kami di Sumatera Utara, Pulau Belitung, dan Kalimantan Barat telah bersertifikasi RSPO. Persiapan telah dimulai untuk proses sertifikasi perkebunan Papua Barat, yang mulai beroperasi pada awal 2020. Perkebunan kami lainnya yang berada dalam tahap pengembangan juga dikelola sesuai dengan standar RSPO dan kami akan mengajukan sertifikasi RSPO saat perkebunan tersebut mulai beroperasi secara komersial.

Pada tanggal 31 Desember 2020, Perseroan memiliki total cadangan lahan lebih dari 150.000 hektare. Pada saat itu, sekitar sepertiga dari cadangan lahan ini, atau 54.694 hektare, telah ditanami, meningkat dari 54.548 hektare pada akhir 2019. Pada akhir 2020, total lahan perkebunan yang telah ditanami seluas 4.519 hektare telah dialokasikan untuk petani kecil di bawah Program Plasma Pemerintah Indonesia.

Seluas 41.291 hektare atau 75% dari jumlah lahan yang ditanami tersebut merupakan tanaman kelapa sawit yang sudah menghasilkan, sementara seluas 13.403 hektare atau 25% merupakan tanaman kelapa sawit yang belum menghasilkan. Per 31 Desember 2020, rata-rata umur tanaman kelapa sawit inti di seluruh perkebunan kami adalah 12,6 tahun.

Sekitar 22.000 hektare dari total luas cadangan lahan diperkirakan dapat ditanami tetapi belum ditanami (inti atau plasma). Kami telah memperoleh atau sedang dalam proses untuk memperoleh izin dan hak untuk mengembangkan lahan tersebut menjadi perkebunan kelapa sawit.

Sisa cadangan lahan Perseroan merupakan lahan yang dianggap tidak dapat ditanami karena kondisi topografi yang tidak sesuai atau digunakan untuk berbagai tujuan termasuk konservasi keragaman hayati, batas pelindung tepi sungai dan area konservasi untuk situs sejarah dan/atau budaya. Sebagian lahan digunakan untuk infrastruktur seperti jalan, perumahan karyawan dan fasilitas lainnya.

Sebagaimana dijelaskan di dalam Kebijakan Keberlanjutan kami, ANJ berkomitmen untuk memelihara area hutan yang memiliki nilai konservasi tinggi (HCV) dan/atau stok karbon tinggi (HCS) serta tidak akan mengembangkan lahan gambut atau lahan basah.